Minggu, 13 Desember 2009

RUNTUHNYA KERAJAAN MINANGKABAU




Ditulis oleh : H.M. Rasyid Dt. Paduko


Pada tahun 1803 terjadilah suatu keadaan yang akan menambah warna dari sejarah Minangkabau, dan akhirnya menghapus gemilangnya nama Minangkabau dari halaman sejarah Tanah Air. Oleh karenanya mulai dari abad XIX kerajaan Minangkabau tidak lagi disebut sebagai suatu kerajaan, karena kekuasaannya sudah sirna.
Jauh sebelum itu yaitu sejak tahun 1530 Minangkabau sudah memeluk agama Islam. Pada tahun itu antara adat dan agama berjalan dengan baik, saling menguatkan satu dengan lainnya, ibarat tali berpilin dua. Justru karena perpilinan itu banyak amal-amal keagamaan yang tidak berjalan menurut semestinya. Hal-hal yang menurut agama dianggap bid’ah berkembang dengan subur dalam masyarakat. Contohnya tentang pembagian harta peninggalan yang tidak menurut hukum faraidh, akan tetapi menurut garis keturunan ibu (matrilinial).
Para ulama muda merasa tidak puas dengan paham ulama tua yang masih kuat memegang paham Syi’ah. Para ulama muda jumlahnya semakin hari semakin besar, semakin kuat dan anti terhadap yang sudah usang yakni paham Syi’ah. Pada tahun 1803 itu pulang dari Tanah Suci Mekkah tiga orang ulama, yaitu :
1. Haji Miskin yang berasal dari Luhak Agam, dan suraunya berada di kampungnya Pandai Sikek. Disanalah Haji Miskin mengembangkan faham yang baru diterimanya di Makkah. Dengan khotbahnya yang berapi-api beliau mengobarkan semangat jihad untuk memberantas segala hal yang bertentangan dengan agama. Disertai dengan keahliannya dalam berpidato, maka semakin hari semakin bertambah banyak pengikutnya.
2. Haji Piobang. Beliau berasal dari Luhak Limo Puluh Koto. Beliau seorang ulama yang revolusioner, seorang yang mengerti strategi dan taktik kemiliteran. Beliau ingin cita-citanya sempat terujud. Selama beliau bermukim di Arab Saudi, beliau sempat pergi ke Mesir dan menuntut ilmu di Universitas Al-Azhar. Ketika sudah pulang beliau menetap di kampungnya.
3. Haji Sumanik. Beliau berasal dari Luhak Tanah Datar, seorang ulama muda yang jiwanya penuh dengan semangat pembaharuan dalam bidang agama, tegas dalam bertindak, tidak tedeng aling-aling.

Ketiga ulama muda itu serentak mengobarkan semangat baru dalam bidang agama, memberantas syirik dan khurafat, yang pada masa itu masih berkembang ditengah masyarakat. Ketiga ulama itu mengembangkan faham yang diterimanya di Mekkah dari Syekh Abdul Wahab, yang fahamnya itu dinamakan Wahabi. Ketiganya melihat amat banyak kepincangan-kepincangan yang berlaku dalam masyarakat. Orang-orang masih suka mengadu dan menyabung ayam, mengisap candu yang oleh pemerintah Belanda dibiarkan begitu saja. Berjudi dalam berbagai bentuk menjadi-jadi.
Maka ketiga ulama itu memperkuat larangannya terhadap hal-hal yang oleh agama Islam tidak diperbolehkan. Ajaran-ajaran ketiga ulama itu disambut baik oleh ulama-ulama muda yang ada di kampung, dan ulama-ulama yang berfaham baru lainnya. Sehingga dalam waktu singkat mereka sudah menjadi suatu kumpulan yang banyak jumlahnyadan kuat.
Mula-mula merkean mengadakan pengajian berpusat di suaru Haji Miskin di pandai Sikek. Oleh karena kaum adat melihat gejala-gejala akan semakin kuatnya perkumpulan ulama-ulama baru ini, maka ketiga ulama itu beserta pengikutnya diusir oleh penghulu-penghulu dari Padang Panjang, sehingga mereka memindahkan pusat pengajian ke Kamang.
Di kamang bertemulah mereka itu dengan teman-teman kuat lainnya seperti : Tuanku Nan Renceh, Tuanku Tuo di Cangkiang, Malin Putiah dari Aie Tabik, Tuanku Pamasiangan dan Peto Syarif dari Bonjol dan lain-lainnya. Maka dengan demikian, tersusunlah suatu kelompok yang kuat untuk mengadakan pembaharuan dalam bidang agama, menghapus khurafat, syirik dan bid’ah. Mereka sumuanya berjumlah delapan orang, yang kemudian berjuluk “HARIMAU NAN SALAPAN” yaitu : 1. Tuanku Pamansiangan sebagai ketua, 2. Haji Miskin, 3. Haji Piobang, 4. Haji Sumanik, 5. Tuanku nan Renceh, 6. Tuanku Tuo di Cangkiang, 7. Malin Putiah dari Aie tabik, 8. Peto Syarif di Bonjol.
Mereka semuanya beserta pengikut-pengikutnya berpakaian putih, sehingga mereka dinamakan kaum putih atau kaum Paderi. Sedangkan kaum adat, para penghulu berpakaian hitam-hitam dan dinamakan kaum hitam.
Antara kaum putih dan kaum hitam terdapat perbedaan yang amat tajam dalam pelaksanaan agama. Kaum hitam membolehkan mangadu atau menyabung ayam, menghisap madat atau candu, makan sirih dan berjudi. Sedangkan kaum putih mengharamkan perbuatan-perbuatan itu dan wajib diberantas. Kaum hitam ini tidak kuat dan terlalu lemah untuk menghadapi kaum putih atau kaum paderi. Maka mereka meminta bantuan Belanda untuk menghancurkan kaum Paderi itu. Dengan demikian kaum Paderi menghadapi dua lawan, pertama kaum hitam dan kedua Belanda.
Walaupun demikian mereka sudah bertekad untuk mengganti undang-undang adat yang tidak sesuai dengan agama, dengan aturan-aturan agama Islam dengan menerapkan sanksi-sanksi yang keras tanpa pandang bulu.
Dari laporan yang dapat dibaca, bahwa seorang pimpinan kaum Paderi tidak ragu-ragu menjatuhkan hukuman walaupun kepada orang tua atau saudara sendiri apabila tidak menjalankan perintah-perintah agama.
Di antara sekian banyak pimpinan kaum Paderi termasuk Harimau Nan Salapan, tertonjollah seorang pemuda yang mempunyai keberanian luar biasa, gagah dan perkasa, sifat-sifat kepemimpinannya lebih menonjol dibanding yang lain. Ia adalah Peto Syarif yang kemudian berjudul Tuanku Imam Bonjol.
Peto Syarif mempelajari hukum-hukum agama dan ilmu kemiliteran, dan menerapkannya sekaligus dalam kalangan kaum Paderi dan masyarakat. Masa-masa selanjutnya Bonjo; menjadi pusat pergerakan dan benteng yang kuat Kaum Paderi.
Bentrokan-bentrokan antara kaum putih dan kaum hitam terjadi dimana-mana. Kaum hitam melihat Bonjol adalah benteng dan pusat pergerakan kaun putih, maka kaum hitam ingin menghancurkan benteng kaum putih itu karena mereka melihat bahwa kaum putih itu merupakan bahaya besar bagi mereka dan dapat menghancurkan mereka.
Maka pada tahun 1818 kaum hitam mencoba menyerbu Bonjol. Hampir saja Bonjol jatuh ke tanga kaum hitam, namun Tuanku nan Renceh selaku pengatur dan pemegang siasat perang kaum Paderi cepat diberi tahu tentang penyerbuan kaum hitam ke Bonjol itu dan Tuanku nan Renceh beserta pasukannya yang banyak tepat datang pada waktunya, yaitu sewaktu kaum hitam sedang mengepung Bonjol.
Tuanku nan Renceh dengan pasukannya menyerang kaum hitam dengan dahsyat. Segala siasat, taktik ilmu perang yang sudah dipelajarinya diterapkannya dalam penyerangan itu, sehingga kaum hitam menjadi kucar kacir lari menyelamatkan diri.
Dibagian lain kaum Paderi melihat selain dari kaum hitam ada bahaya lain yang sedang mengancam, yaitu Belanda yang hendak menguasai Minangkabau.
Maka pada tahun 1821 Paderi menyerang Belanda yang berkedudukan di Air Bangis, yang dibantu oleh Armada Aceh. Secara serentak mereka melakukan serangan terhadap kedudukan Belanda. Tuanku Imam Bonjol dati darat sedangkan arma Aceh dibawah pimpinan Laksamana Saidi Marah dan Labai Adam dari laut. Belanda kucar kacir, sehingga beberapa meriam dan persenjataan lainnya dapat dirampas oleh kaum Paderi.
Kini kaum Paderi merasa lebih kuat karena dapat merampas beberapa pucuk persenjataan Belanda.
Pada tahun 1822 Paderi menyerang kedudukan Belanda di daerah Agam, Ampek Angkek, Kurai, Banuhampu dan lain-lain sekitar Bukit Tinggi. Belanda kewalahan dan minta berjanji atau berunding. Lalu dibuatlah perjanjian dihadapan Tuanku Tuo, guru kaum Paderi dan perantara bagi Belanda untuk minta berunding. Walaupun Tuanku Imam Bonjol pada hakekatnya tidak percaya kepada janji Belanda, namun beliau kembali juga ke Bonjol karena patuh kepada guru.
Pada tahun 1824 dibuat kembali perjanjian antara Paderi dengan Belanda dengan Masang, yang isi perjanjian itu bahwa Belanda tidak akan mencampuri urusan adat, agama dan pemerintahan di Minangkabau.
Akan tetapi Belanda segera membatalkan secara sepihak perjanjian itu dengan menyerang Koto Laweh tempat kedudukan sahabat akrab Tuanku Imam Bonjol, yaitu Tuanku Pamansiangan secara tiba-tiba. Pertempuran sengit selama empat hari berlangsung di Guguak Sigandang terletak di perbatasan tiga nagari, yaitu Pandai Sikek, Koto Laweh, dan Kayu Tanduak. Belanda melakukan serangan bergelombang, sementara Tuanku Pamansiangan kurang persiapan karena serangan itu mendadak. Tuanku Pamansiangan memperkirakan Belanda tidak akan melakukan serangan karena perjanjian baru saja ditanda tangani beberapa hari yang lalu. Banyak lasykar Paderi yang gugur dalam pertempuran empat hari tersebut. Koto Laweh dapat diduduki Belnda, sementara Tuanku Pamansiangan beserta pasukan yang masih tinggal mengundurkan diri ke Bonjol.
Pertempuran melawan Belanda menjadi berlarut-larut tak pernah berhenti, di samping kaum Paderi juga menghadapi kaum hitam. Akan tetapi setelah kaum hitam merasakan sendiri bagaimana kekejaman tentara Belanda itu terhadap rakyat, mnaka kaum hitam menyetujui untuk mengadakan serangan serentak terhadap kedudukan Belnda.
Pada tanggal 12 Januari 18... tengah malam dilakukanlah serangan serentak itu. Raja Pagaruyung sendiri ikut memimpin serangan terhadap Belanda itu sehingga Belanda menjadi kucar kacir diseluruh Minangkabau. Namun disayangkan juga bahwa rencana serangan serentak itu pada beberapa tempat sudah diketahui oleh Belanda sehingga merekapun lebih waspada dan dapat memberi bantuan kepada teman mereka yang terdesak. Seandainya serangan itu tidak bocor sebelumnya, maka sejarah Minagkabau akan menjadi lain.
Setelah serangan serentak itu sudah diperoleh kesepakatan bahwa untuk melakukan serangan selanjutnya, kaum putih dan kaum hitam akan bekerjasama. Namun amat disayangkan pula, kesepakatan itu dikejutkan pula oleh peristiwa yang terjadi di Saruaso, yakni pembantaian beberapa orang kaum hitam oleh kaum putih. Peristiwa itu terjadi karena kaum putih memperoleh informasi bahwa yang membocorkan rencana penyerangan serentak pada tanggal 12 Januari 18... itu kepada Belanda adalah kaum hitam, sehingga penyerangan serentak itu di sebagian tempat tidak berhasil.
Akhirnya perselisihan dan perpecahan antara kaum hitam dan kaum putih menjadi marak kembali, ditambah lagi oleh hasutan dan fitnahan dari pihak Belanda, atau politik adu domba pihak belanda dalam menghadapi Indonesia, maka Paderi dapat dikalahkan oleh Belanda.
Belanda sendiri merasa salut dan kagum dengan kegigihan dan keuletan kaum Paderi dalam berperang. Pada tahun 1837 Belanda meminta diadakan perundingan kembali. Semula Tuanku Imam Bonjol tidak mau berunding karena sudah pernah kecolongan. Akan tetapi dengan berbagai rayuan dan tipu muslihat Belanda serta janji-janji yang kederangarannya muluk-muluk, Tuanku Imam Bonjol pun memenuhi permintaan Belanda untuk berunding. Diiringi oleh beberapa orang teman dan dengan berkenderaan kuda tunggangan beliau menuju Lubuak Sikapiang untuk berunding.
Akan tetapi apa yang terjadi ? Bukan berunding, tetapi Tuanku Iman Bonjol dan teman-temannya disergap dan ditahan. Selanjutnya diasingkan ke Ambon dan kemudian dipindahkan ke Menado. Masih syukur, teman-teman beliau tidak ikut diasingkan, hanya beberapa hari ditahan kemudian dibebaskan. Sultan Muning III yang bergelar Sultan Bagagar Alamsyah yang menjadi Raja Minangkabau waktu itu juga diasingkan oleh Belanda. Perlawanan Raja Pagaruyuang diteruskan oleh Yang Dipertuan Sembayang III secara bergerilya, namun tidak membawa hasil sehingga beliau mengasingkan diri ke Muara Lembu dan meninggal disana pada tahun 1870.
Dengan demikian sirnalah kecemerlangan Minangkabau. Patah tumbuh hilang berganti. Raja wafat digantikan oleh saudara atau puteranya. Namun kekuasaan sudah tidak ada lagi karena kekuasaan sudah berada di tangan Belanda.
Kesimpulan yang dapat diambil, bahwa Kerajaan Minangkabau pernah ada dan berjaya sampai dengan ditangkapnya Sultan Bagagar Alamsyah oleh Belanda pada tahun 1837.














SILSILAH RAJO RAJO MINANGKABAU


1. ADITYAWARMAN 1339 1376
2. ANANGGAWARMAN 1376
3. SULTAN BAKILAP ALAM (BAGALA YANG DIPERTUAN RAJA PAGARUYUANG)
4. SULTAN PASAMBAHAN
5. SULTAN ALIF
6. SULTAN BANANDANGAN
7. SULTAN MUNING I (SULTAN BAWANG)
8. SULTAN MUNING II (SULTAN FATAH)
9. SULTAN MUNING III (SULTAN BAGAGAR ALAMSYAH)
10. SULTAN SEMBAYANG III
11. TUAN GADIH RENO SUMPU
12. SULTAN IBRAHIM
13. SULTAN USMAN


CATATAN :

- Menurut kaba, Kerajaan Minagkabau sudah ada sebelum Nabi Isa lahir
- Sebelum Adityawarman suda ada Raja Raja di Minangkabau, namun bukti keabsahannya belum ditemukan
- Bukti-bukti keberadaan Kerajaan Minangkabau ditemukan semenjak Adityawarman.

PATRIOTISME PEMUDA PADANG PANJANG

LATAR BELAKANG SEJARAH PERJUANGAN KEMERDEKAAN BANGSA INDONESIA

Kita semuanya bangsa Indonesia yang percaya kepada Tuhan Yang Maha Esa, berkeyakinan pula bahwa Tuhan Yang Maha Esa, Tuhan Yang Maha Kuasa dan Tuhan Seru sekalian alam, sesuai dengan kodratNya dan iradatNya telah menciptakan alam raya ini dengan segala isinya. Selanjutnya makhluk ciptaan itu diatur, dibina dan dipelihara menurut kehendak Allah sang pencipta sendiri.
Diantara sekian banyak makhluk ciptaan Allah, manusialah makhluk yang paling mulia. Maka kepada manusialah hukum-hukum Allah, ketentuan-ketentuan-Nya dibebankan. Yaitu agar berbakti, berbuat baik dan bersujud kepadaNya. Makhluk Tuhan yang bernama manusia itu pada hakekatnya adalah sama. Sama asal penciptaannya, sama harkat dan martabatnya namun berbeda warna kulit dan kebudayaannya.
Hak-hak manusia yang diberikan oleh Allah juga sama. Yaitu hak untuk hidup, hak untuk mencari nafkah, hak untuk mendapatkan kebahagiaan di dunia kini dan diakhirat kelak dan hak untuk merdeka. Kewajiban yang diberikan Allah kepada manusia juga sama, yaitu agar berbakti kepadaNya, menyayangi sesama manusia dan memanfaatkan alam raya ini untuk kemaslahatan bersama.
Atas dasar dan keyakinan itulah maka kita bangsa Indonesia menyatakan bahwa sesungguhnya Kemerdekaan itu adalah hak azazi manusia. Oleh karena manusia itu hidup secara berkelompok, sampai ke kelompok yang besar yang bernama bangsa, maka kemerdekaan juga adalah hak azazi setiap bangsa. Tuhan yang Maha Esa dan maha Kuasa telah menentukan bahwa manusia semenjak dahulu kala, bahkan semenjak manusia pertama diciptakanNya mendiami dan hidup di bumi Tuhan ini. Tidak ada manusia yang hidup di luar bumi. Nenek moyang kita yang merupakan cikal bakal bangsa Indonesia, yang semenjak dulu mendiami gugusan pulau-pulau yang sekarang ini bernama Indonesia, sudah memiliki kebudayaan yang tinggi nilainya menurut ukuran waktu itu, jauh sebelum berkenakan dengan bangsa-bangsa lain. Waktu itu nenek moyang kita sudah percaya pada roh, percaya pada dewa, kepada yang gaib yang diseut Sang Hyang Tunggal, bercocok tanam dan bergotong royong. Sifat ramah tamah semenjak dahulu sudah menjadi tabiat dari nenek moyang kita. Musyawarah/ mufakat semenjak dahulu pun sudah diterapkan oleh nenek moyang kita bangssa Indonesia. Menjadi kegemaran bagi nenek moyang kita dahulu kala mengarungi samudera luas, merantau ke negeri-negeri tetangga dengan menggunakan perahu bercadik yang dapat lincah melintasi alunan gelomang. Maka berkenalanlah nenek moyang kita itu dengan bangsa-bangsa lain sekaligus dedengan kebudayaannya, seperti Tiongkok, India, Persia, Arab dan Afrika. Karena perkenalan nenek moyang kita dengan bangsa-bangsa lain itu, lama kelamaan masuklah pengaruh agama dan kebudayaan dari luar ke tanah air kita ini melalui proses pergaulan dan perkawinan.
Nenek moyang bangsa Inddonesia semenjak dahulu sudah hidup dalam susunan ermasyarakat serta tata negara yang teratur dalam bentuk negara–negara kecil, seperti kerajaan Kutei, Taruma Negara, Kalingga, Mataram, Melayu, Pajajaran, dan juga sudah ada negara-negara antar nusa seperti Kerajaan sriwijaya, dan kerajaan Majapahit. Puncak kegemilangan negara antar nusa terjadi di dalam masa keperabuan Majapahit di bawah raja Hayam Wuruk dan patih Gajah Mada pada tahun 1357, di mana seluruh tumpah darah Nusantara raya (Semenanjung Melayu, Sumatera, Jawa, sunda Kecil, Kalimantan, sulawesi, Maluku dan irian), semuanya dalam satu kekuasaan pemerintah pusat di bawah panji-panji Majapahit. Kemudian tiada pasang surut. Semenjak patih gajah Mada meninggal dunia pada tahun 1364 tiada orang setara untuk menggantikannya. Penyakit dari dalam timbul, rasa tidak senang dengan pemerintah pusat mulai tumbuh, daerah mulai ingkar, perang saudara mulai terjadi, kekuatan ekonomi di sepanjang bandar-bandar terlantar, membuat kerajaan menjadi lemah. Para prajurit karena kekurangan gaji menjadi enggan bertugas, dan akhirnya sirnalah kegemilangan Majapahit itu pada tahun 1478.
Di saat Majapahit menuju keruntuhannya datanglah menggema seruan ajaran Islam ke tanah air dengan damai, tiada paksaan. Ajaran Islam yang disiarkan oleh Wali Sanga mengenai Tauhidullah (Keesaan Allah) berkenan dengan mudah diterima oleh hati sanubari rakyat Indonesia yang sebelumnya juga sudah memiliki kepercayaan kepada sang Hyang Tunggal, Tuhan seru sekalian alam. Tersebarlah Islam menyinari seluruh Nusantara, dan banyaklah raja-raja yang memeluk agama Islam tanpa paksa.
Maka tibalah saatnya panggung sejarah dunia melakonkan perebutan kekuasaan tunggal di seluruh nusantara yang indah ini, karena letaknya yang dipersimpangan lalu lintas antara benua dan antar samudera. Tumpuan arus pengaruh antara barat dan timur.

IMPERIALIS PERTAMA MELANDA NUSANTARA.

Berbicara mengenai penjajahan atau kolonialisme imperialisme di Nusantara ini, sebenarnya tiada dapat dilepaskan dari masalah polarisasi atau konfrontasi antara dua pola kekuatan, Barat dan Timur. Atau antara Eropa di satu pihak, dan Asia-Afrika di pihak lain. Pertemuan antara barat dan timur itu dinamakan oleh Prof. AJ. Toynbee sebagai pertemuan dua peradaban. Miss Barbara Ward menamakan sebagai pertemuan tali temali antara barat dan timur. Sedangkan Prof. Jan Romein dan Wertheim menyebut sebagai bentrokan antara barat dan timur.
Sejarah telah menunjukkan bahwa kontak, pertemuan atau bentrokan antara timur dan barat atau antara Asia-Afrika dan Eropa sudah sering kali terjadi, bagaikan rantai sebab akibat yang silih berganti. Mula-mula menanglah timur yang memasuki barat sebagaimana terlukis dalam fakta-fakta sejarah:
(1) Dalam abad ke IV bangsa Huna dari Asia di bawah pimpinan Atila memasuki Eropa, yang menyebabkan porak porandanya bangsa-bangsa Eropa dalam perpindahan bangsa-bangsa.
(2) Dalam abad ke VII Islam diturunkan Allah melalui Rasulnya Muhammad S.A.W. di tanah Arab, yang kemudian menyebar ke seluruh penjuru dunia. Ajaran Islam oleh penganutnya dibawa melintasi sepanjang pantai utara Afrika terus melintasi selat Jabal El Tarik mendarat di tanah semenanjung Iberia hingga sampai di Eropa, dan berada di sana kira-kira 700 tahun lamanya.
(3) Dalam abad ke XIII sampai abad ke XV bangsa Tartar dari Asia memasuki Eropa Timur, terutama daerah Rusia sekarang.
(4) Pada tahun 1453 umat Islam di awah pimpinan Sultan Salim (dinasti Turki Usmani) merebut Constantinopal, yang diganti namanya menjadi Istambul hingga sekarang, dan terus memasuki benua Eropa sampai perbatasan kota Wina.
Tibalah pula saatnya arus balik perjalanan sejarah dunia atau “the turning point of history’ kata ahli sejarah bangsa Belgia Henri Pirenne. Tibalah gilirannya bangsa-baangsa Eropa atau barat memasuki duniaTimur, yakni benua Asia-Afrika mulai akhir abad ke XVI dan bercokol di Timur hingga pertengahan abad ke XX.
Akibat jatuhnya Constantinopel ke tangan Turki pada tahun 1453, maka lautan tengah sebagai lalu lintas perdagangan antara barat dan timur tertutup. Bangsa-bangsa Eropa tidak dapat lagi secara langsung berlayar dan berhubungan ke dunia Timur mencari hasil bumi seperti rempah-rempah dan sebagainya. Karena sikap mereka yang dendam dan memusuhi Islam, sebagaimana dahulu bangsa eropa memusuhi Nasrani yang disiarkan oleh Nabi Isa Al-Masih, maka orang-orang Eropa terpaksa mencari jalan lain untuk dapat sampai ke dunia timur, khususnya daerah sumber rempah-rempah di nusantara kita ini.
Gerakan penyiaran islam di bawah pimpinan Abdur Rahman bin Abdullah AlGfiqi melalui pegunungan Pyrene menuju ke utara setelah mengalahkan Pangeran Eudo di lembah sungai Garonne, menyerbu Bourdeaux samapi di sekitar Tours di dekat kota Poiters pada tahun 732.
Diantara Tours dan Poiters di mana bertemu sungai Clain dan Vienna berhadapanlah pasukan Abdur Rahman dengan pasukan Karel Martel. Maka terjadilah pertempuran sengit antara ke dua pasukan pada hari sabtu bulan oktober tahun 732. Dalam pertempuran itu gugurlah Abdur Rahman sebagai Syuhada. Pasukannya mundur secara teratur. Karel Martel menanglah dalam pertempuran itu.

RIWAYAT HIDUP bapakku

Nama Lengkap Muhammad Rasyid
Nama Gelar Datuak Paduko
Tanggal Lahir 12 Juni 1927
Tempat lahir Desa Pagu-pagu, Pandai Sikek, Kecamatan X Koto, Kab. Tanah Datar
INDONESIA/Minang Kabau

Suku Bangsa Koto Limo Paruik

Agama ISLAM





C I R I – C I R I
Tinggi Badan 169,5 cm
Warna Kulit Sawo matang
Rambut Sedikit ikal
Golongan darah B
Perawakan TEGAP




O R A N G T U A
Ayah Muhammad Nuh (meninggal tahun 1938)
Ibu R I S A H (meninggal tahun 1980)

S A U D A R A - S A U D A R A
Kakak satu ayah 1. Muhammad Adnan (P) sudah meninggal
2. Muhammad Dinar (P) sudah meninggal
3. Marwana (W)
4. Tirahima (W)
5. Muhammad Daya (P) sudah meninggal

Kakak satu Ibu Adik se Ibu se Ayah
6. Muhammad Saleh (P) sudah meninggal
7. Ramaya (W)
ISTERI
Anak-anak Ahli Sunnah (1928)
1. Indrawarni (1951) sudah berkeluarga
2. Juniasatri (1953) sudah berkeluarga
3. Gusmailina (1957) sudah berkeluarga



RIWAYAT PENDIDIKAN
Nama/jenis/tingkat sekolah Th. Masuk Th. Tamat Keterangan
1. Sekolah Rakyat
2. Thawalib school
3. SMP Tampis Medan
4. Fakultas Dakwah wal Irsyad

RIWAYAT PENDIDIKAN MILITER
1. Latihan dasar Seinendan
2. Latihan Dasar Infanteri YON MERAPI
3. SUS BA YON 123 SIBINUANG
4. Sekolah ROHIS
KPP. DAM. III/17 Agustus 1944
1945

1951

1955
1964 3 bulan
100 hari. Tamat

3 bulan.Tamat.SOLOK

6 bulan.Tamat.Medan
6 bulan Tamat.Padang
PENGALAMAN PEMERINTAHAN
1. KA MAWIL HANSIP
2. KA SUB DIR SOSPOL 1970
1971 1974
1974 Di Kab. SWL/SJJ
Di Kab. SWL/SJJ
PENGALAMAN ORGANISASI
1. KA KWARCA PRAMUKA
2. TUA DPD-II GOLKAR
3. TUA DPD-II GOLKAR 1972
1972
1978 1973
1975
1980 Di Kab. SWL/SJJ
Di Kab. SWL/SJJ
Di Kodya SOLOK
PENGALAMAN KEKARYAAN
1. Anggota DPRD Kab. SOLOK
2. Anggota DPRD Kab. SOLOK 1976
1977 1977
1982 Pengganti antar waktu
Fraksi ABRI
PENGALAMAN PEMULIHAN KEAMANAN
1. Operasi pemulihan keamanan di Sulawesi selatan
2. Operasi pemulihan keamanan di Maluku Selatan
3. Operasi pemulihan keamanan di Aceh Besar Tahun 1951
Tahun 1951
Tahun 1953/1955
PENGALAMAN SETELAH PURNAWIRAWAN
1. Ketua PEPABRI cabang 0307 B Padang Panjang
2. Wakil Ketua DPD II GOLKAR Kodya Padang Panjang
3. Sekretaris DHC Angkatan 45 Kotamadya Padang Panjang Tahun 1983/11988
Tahun 1983/1987
Tahun 1986/1991
RIWAYAT JABATAN
1. Komandan regu pada Ki-III YON Merapi
2. Bintara Peleton pada Ki-III YON 102/IV
3. BA Pengawas Makanan Ki-V YON 142
4. BA Pem.Imam Tentara YON-133/BB
5. Penilik Keagamaan ROHIS DAM-I/BB
6. PA ROHIS YONIF 124 DAM-I/BB
7. PA SI-IV DIM 0210
8. DAN TON MA DIM 0210
9. DASI-IV DIM 0311
10. PASI-IV DIM 0309
11. PASI-IV DIM 0310
12. KA MAWIL HANSIP SWL/SJJ
13. KA SUB DIR SOSPOL SWL/SJJ
14. TUA DPD-IIGOLKAR SWL/SJJ
15. KA SI-V/TERR.REM 033/WIRAYUDA
16. ANGG.DPRD-II KAB. SOLOK
17. TUA PEPABRI CAANG 0307 B PADANG PANJANG
18. WATUA DPD-II GOLKAR PADANG PANJANG
19. SEKRETARIS DHC ANGK. 45 KODYA PD.PANJANG
20. ANGG..DPRD –II KODYA PADANG PANJANG Tahun 1945 – 1950
Tahun 1950 – 1953
Tahun 1953 – 1955
Tahun 1955 – 1956
Tahun 1956 – 1959
Tahun 1959 – 1960
Tahun 1961 – 1962
Tahun 1962 – 1964
Tahun 1964 – 1965
Tahun 1965 – 1967
Tahun 1967 – 1970
Tahun 1970 – 1974
Tahun 1971 – 1974
Tahun 1972 – 1974
Tahun 1973 – 1976
Tahun 1976 – 1982
Tahun 1983 – 1988
Tahun 1983 – 1987
Tahun 1986 – 1991
Tahun 1987 – 1992
JENJANG KEPANGKATAN
1. Prada
2. Sersan
3. Serma
4. Pelda
5. Peltu
6. Letda
7. Lettu
8. Kapten
9. Mayor 21 Agustus 1945 s/d 31 Januari 1946
1 Februari 1946 s/d 31 Desemer 1956
1 Januari 1957 s/d 31 Desember 1959
1 Januari 1960 s/d 31 Desember1962
1 Januari 1963 s/d 31 Desember 1965
1 Januari 1966 s/d 31 Desember 1968
1 Januari 1969 s/d 31 Desember 1970
1 Januari 1971 s/d 30 September 1980
1 Oktober 1980 -------------------
TANDA-TANDA JASA/PENGHARGAAN
1. Bintang Gerilya
2. Medali Sewindu A.P.
3. Satya Lancana Perang Kemerdekaan ke I
4. Satya Lancana Perang Kemerdekaan ke II
5. Satya Lancana Bhakti
6. Satya Lancana Kesetiaan VII, XVI. Dan XXIV TAHUN
7. Satya lancana Sapta Marga
8. Satya Lancana G.O.M. III
9. Satya Lancana G.O.M. IV
10. Satya Lancana G.O.M. VII
11. Satya Lancana Penegak
12. Satya lancana Dwi Kora
PENGALAMAN KEMASYARAKATAN
1. ANGGOTA WAN. HAT. LKAAM. KODYA SOLOK (1975 – 1976)
2. KETUA V MUI. KAB. SOLOK (1977 - 1981)
3. ANGG. BADAN PERTIMBANGAN MUI. KODYA PD.PANJANG (1987 – 1992)
KETERANGAN TENTANG NOMOR POKOK
1. Nomor Register pokok 193141
2. Nomor Buku Dinas 056177
3. Nomor Pokok Anggota Golkar 03080000020
4. Nomor Pensiun D4600111730
5. Nomor Skep.Pensiun4793/III – 7/1982
tanggal 1 Juli 1982






Padang Panjang, 1 Juli 1991
Tanda tangan yang bersangkutan


M.RASYID DT. R. NAN MUDO

Mengetahui
KETUA UMUM DHC ANGKATAN 45
KOTAMADYA DAERAH TINGKAT II PADANG PANJANG


KARNALIS ST.PANGERAN

BADAN KAJIAN SEJARAH PERJUANGAN BANGSA PADANG PANJANG

BADAN KAJIAN SEJARAH PERJUANGAN BANGSA PADANG PANJANG

Tulisan berkenaan dengan Hari Jadi Kota Padang Panjang
Ditulis oleh: H. M. Rasyid Dt. Paduko (Alm. Mayor Purn)

Penetapan hari jadi suatu kota mengandung arti yang amat penting bagi masyarakat dan bagi pemerintahnya sendiri. Karena dengan menetapkan hari jadi itu dapatlah diketahui histories kehidupan suatu kota dan untuk mengetahui nilai-nilai yang terkandung dalam sejarah perjalanan kota itu, danuntuk memperoleh identitas kota itu sendiri.
Semenjak lama sudah dikandung maksud untuk menggali hari jadi kota Padangpanjang. Namun oleh karena beberapa hal tak kunjung kesampaian. Hari jadi Kota padangpanjang yang setiap tahun diperingati dewasa ini adalah berdasarkan Undang-undang No 8 tahun 1956. jadi berdasarkan Undang-undang tersebut di atas, maka kota Padangpanjang baru berusia 46 tahun. Timbul pertanyaan, apakah betul padangpanjang baru berusia 46 tahun?
Dapat kita utarakan disini bahwa padangpanjang abad ke 18 sudah menjadi tempat pemukiman penduduk. Jadi tidak benar bahwa Padangpanjang baru berusia 46 tahun. Akan tetapi jauh sebelum itu sudah terjadi berbagai kegiatan dan perjuangan. Itulah sebabnya badan Kajian Sejarah perjuangan bangsa Padangpanjang berupaya mencari data-data tentang hari jadi Kota Padangpanjang yang dapat dipertanggung jawabkan keabsahannya.
Dalam observasi kepustakaan yang dilakukan, dan dengan mempelajari tulisan-tulisan para penulis, diantaranya A.najir yunus dan drs. H. Taslimuddin Dt. Tungga, terdapat beberapa tanggal yang patut dipelajari, dan dijadikan rujukan dalam menetapkan hari jadi kota Padangpanjang.
Pertama. Hari Jumat tanggal18 Juli 1818.
Pada hari itudiadakan perdamaian antara LimoKoto danAmpek Koto yang sudah bermusuhan selama lebih kurang 15 tahun bertempat di pakan Jumatnan lamo. Pendamaiadalah TuankuPamansiangan. Beliau adalahketua dari Harimau nan salapan, yaitu pemuka kaum Paderi.
Dengan mengangkat AlQuran beliau berucap: Saudara-saudara sekalian, kita semua adalah Hamba Allah! Kita semua orang Islam! Orang Islam itu bersaudara! Orang bersaudara tidak patut saling bermusuhan. Kapan kita akan maju, kapan kita akan dapat membangun negeri kita ini jika kita saling bermusuhan terus menerus. Maka dari itu mari kita habisi segala permusuhan, mari kita habisis segala dendam. Permusuhan dan dendam hanya akan membawa petaka bagi kita semua. Barangkali karena sudah jenuh bermusuhan, maka yang hadir baik dari Limo Koto maupun dari Ampek Koto menerima dengan ikhlas anjuran Tuanku Pamansiangan. Perdamaian itu dipateri dengan shalat Jumat bertempat di Masjid Ashliyyah yang sekarang, dengan Khatib dan iamam adalah Tuanku Pamansiangan sendiri.
Selesai shalat jumat ditanda tangani suatu piagam/sumpah satie antara urang Limo Koto dan urang ampek Koto yang berisikan antara lain:
1. Antara Limo koto dan Ampek Koto tidak akan bermusuhan lagi untuk selamanya.
2. Pasa dipindahkan dari pakan Jumat nan usang ke Padangpanjang sari mananti (yaitu Pasar Usang sekarang)
3. Tabu Baraie milik urang Limo Koto diberikan kepada urang Ampek koto, sedangkan Bukik Kapanehan milik urang Ampek Koto diberikan kepada Urang Limo Koto.
4. Bagi siapa yang melanggar sumpah satie ini, akan dimakan sumpah; Ka ateh indak bapucuak ka bawah indak ba urek, ditangah-tangah dilariak kumbang.
Piagam Padangpanjang Sari manantiitu sampai sekarang tetap langgeng, dan tidak ada yang melanggar.
Ke dua. Pada tahun 1837 Ibu Kota Sumatera Barat dipindahkan ke Padangpanjang utnuk kepentingan strategi, mengepalai dua residensi, Padang dan bahagian Utara berpusat di Aia bangis (SK No. 829/1837). Perpindahan ibu kota ini pada dasarnya adalah untuk kepentingan pemerintahan Belanda pada waktu itu, yang tidak ada sangkut pautnya dengan pembangunan Padangpanjang. Ternyata tiga tahun kemudian yaitu tahun 1840 ibu kota Sumatera Barat dipindahkan lagi ke Padang.
Ke tiga. Pada tahun 1865 Kecamatan Batipuah dan X Koto dijadikan asisten residensi dengan pusatnya di Padangpanjang. Hal ini juga untuk kepentingan pemerintahan Belanda. Kepentingan penjajah untuk memperkuat penjajahannya. Yang daspat kita kutip disini adalah bahwa Padangpanjang mempunyai kedudukan yang penting dan kuat dipandang dari segi strategi, militer, dan mobilitas. Karena letaknya yang dipersimpangan, maka pemerintah Belanda menempatkan batalyon tentaranya di Padangpanjang
Ke empat. Pada tahun 1888 pusat pemerintahan sipil Belanda dipindahkan dari Lampanai ke Padangpanjang. Inipun untuk kepentingan pemerintah Belanda sendiri. Yang dapat diambil disini adalah pentingnya Padangpanjang karena letaknya yang dipersimpangan. Dari segi mobilitas pasukan amat penting.

Analisa sekitar tanggal 18 Juli 1818.
Pada tanggal tersebut di atas terdapat tiga angka delapan belas. Delapan belas (18) adalah angka 1 dan 8. Jika angka 1 dan 8 dipertambahkan, maka menjadi angka 9. Ini berarti ada 9 nagari yang selama 15 tahun bermusuhan pada hari itu berdamai.
1 + 8 = 9. Ada 9 kali perlawanan rakyat Minangkabau melawan penjajah.
1. Perlawanan Minagkabau tahun 1645 s/d 1667
2. Perlawanan Pariaman tahun 1818
3. Gerakan Harimau nan salapan tahun 1820
4. Perang Sulit Air tahun 1820
5. Perang Paderi tahun 1821 s/d 1837
6. Perang Kerinci tahun 1901
7. Perang Manggopoh tahun 1906
8. Perang Kamang tahun 1908
9. Perang Silungkang tahun 1926
1 + 8 = 9 yang ke dua berarti: Tis u’l munjiaat (sembilan perkara yang melepaskan diri dari kesengsaraan) yang perlu bagi para pemimpin Padangpanjang yaitu: 1 Iman; 2. Islam; 3. Ihsan; 4. Ikhlas; 5. Birril waldain; 6. Shilaturrahmi; 7. Amanah; 8. Jihad lillahi taala; 9. Adil (Imam Al Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin).
1 + 8 = 9 yang ke tiga berarti: Tisu’ul muhlikaat (sembilan perkara yang membawa sengsara) yang perlu dijauhi oleh seluruh umat islam, yaitu: 1. Syirik; 2. lalai; 3. Nifaq; 4. Fitnah; 5. U’ququl walidain; 6. Sombong/takabur; 7. Hasad; 8. Kikir atau pelit; 9. Pemalas (Imam Ghazali dalam Kitab Ihya Ulumiddin).
Berdasarkan hal-hal yang kami sebutkan di atas, maka kami mengusulkan kepada PEMDA Padang panjang agar tanggal 18 Juli 1818 dijadikan Hari Jadi Kota Padangpanjang dengan pertimbangan sebagai berikut:
1. bahwa pada hariJum’at tanggal 18 Juli 1818 itu adalah hari perdamaian yang sampai hari ini masih tetap langgeng;
2. Sumpah satie ditanda-tangani pada hari itu dengan mengangkat Al-Quran Al-Kaim berarti karena kesaktian Al-Quran, tidak yang berani melanggar;
3. Dengan mengangkat Al-Quran pada hari perdamaian itu berarti kita semua di Padangpanjang Batipuah dan X Koto wajib kembali kepada Al-Quran, beramal menurut Al-Quran, dan berperilaku menurut Al-Quran;
4. Mengingat ke tiga hal tersebut di atas, maka julukan SERAMBI MEKKAH bagi Kota Padangpanjang yang sudah ditetapkan oleh PEMDA pada tahun 1990, dirasakan sudah tepat sekali.


Padangpanjang 091220020900

Sabtu, 12 Desember 2009

Sebuah Catatan H.M. Rasyid DT. Paduko (Alm. Mayor Purn.)

SEBUAH CATATAN
H.M Rasyid Dt Paduko

Pada tanggal 13 Februari 1949 tentara Belanda dengan kekuatan dua kompi memasuki Pandai Sikek. Mereka datang dari Bukit Tinggi melalui dua jalan. Pertama dari Koto Tinggi dengan berjalan kaki menuju Jorong Tanjuang. Kedua dari Baruah me-nuju Pagu-pagu.
Barangkali mereka sudah memperoleh informasi bahwa di Jorong Tanjuang ada satu kompi TNI. Memang Benar ! Di Jorong Tanjuang bertempat tinggal datu kompi TNI dari Batalyon II Resimen VI yang dipimpin Kemal Mustafa yang berpangkay Mayor. Kompi tersebut di atas bernama Kompi Yacher, yang dipimpin oleh Letnan Dua Yusuf Siraj. Orang-orang menyebutnya dengan Yusuf Yacher. Yang amat disayangkan, bahwa kompi ini tidak pernah menghadapi Belanda. Apabila patroli Belanda datang ke Pandai Sikek, Kompi ini bersembunyi ke Gunung Singgalang atau ke tempat lain yang tidak mungkin didatangi atau dilewati patroli Belanda.
Keberadaan Kompi ini di Pandai Sikek amat jauh dari harapan rakyat sebelumnya. Semula rakyat mengharapkan, Kompi ini akan dapat melindungi rakyat dari kekejaman serdadu-serdadu Belanda. Akan tetapi yang terjadi malah sebaliknya, yaitu para pemuda BPNK disuruh berjaga-jaga untuk memberitahu kedatangan patroli tentara Belanda agar mereka dapat menyelamatkan diri.
Pada hari ini, oleh karena tentara Belanda tidak menemukan yang mereka cari yaitu Kompi Yacher, mereka membakari rumah-rumah rakyat di Jorong Tanjuang dan Jorong Pagu-pagu. Di Jorong Tanjuang 90 buah rumah yang dibakar Belanda dan di Jorong Pagu-pagu 52 buah. Setelah selesai membakari rumah-rumah penduduk, tentara Belanda itu kembali ke induk pasukannya di Bukitg Tinggi.
Inilah sedikit catatan, duka-duka rakyat Pandai Sikek yang terjadi dalam tahun 1949. Rakyat hanya pasrah, apa daya rakyat yang tidak mempunyai kekuatan apa-apa, walaupun ada Kompi Yacher di sekitar meraka. Kompi Yacher ini tidak hendak bertempur melawan Belanda. Barangkali karena morilnya sudah turun atau kekurangan peluru, entahlah ! Yang jelas apabila patroli Belanda tiba di Pandai Sikek, mereka bersembunyi.
Orangpun tahu bahwa di Pandai Sikek banyak sekali kolam-kolam ikan milik rakyat. Hampir setiap rumah mempunyai kolam ikan, namun ada juga milik bersama (milik nagari). Kompi Yacher ini hampir setiap hari memancing di kolam-kolam yang ada. Mereka tidak peduli apakah kolam-kolam ikan itu berpunya atau tidak. Ikan-ikan hasil pancingan mereka bawa dan mereka makan. Bukankah makanan yang diambil tanpa seizing pemiliknya itu mencuri namanya ? Bukankah mencuri itu haram hukumnya ? Barangkali seandainya Kompi ini pernah bertempur dengan Belanda atau mengadakan perlawanan apabila patroli Belanda datang, rakyat anggota masyarakat tidak akan kecewa. Walaupun kolam-kolam ikan mereka dipancingi setiap hari, mereka akan rela. Rakyat Pandai Sikek sangat anti dengan Kompi ini yang manifestasinya rakyat tidak lagi memberi bantuan bagi mereka. Maka dalam bulan Juni 1949 mereka pindah dari Pandai Sikek